Posted by: albagroup on: April 21, 2011
Penulis : Bunda. Rumah Bunda. Com
Baru-baru ini saya dikagetkan oleh sebuah fakta baru penelitian bahwa ternyata musik klasik tidak memiliki pengaruh apapun terhadap kemampuan kognitif seorang anak. Itu artinya, mendengarkan musik klasik tidak mencerdaskan anak sebagaimana yang selama ini kita tahu.
Selama lebih dari 15 tahun, kita terkecoh oleh publisitas yang banyak membesar-besarkan tentang musik klasik yang dapat memacu kecerdasan seorang anak. Dulu, sebelum saya mengenal banyak keajaiban Al-Qur’an, saya cenderung memegang pendapat bahwa musik klasik dapat merangsang perkembangan otak janin dan mencerdaskan anak. Tapi, beberapa tahun kemudian, saya mulai berpikir, jika mozart yang ciptaan manusia saja bisa mencerdaskan anak, maka tentu Al-Qur’an yang merupakan mukjizat yang telah Allah berikan kepada kita ini lebih dapat mencerdaskan anak.
Dan ternyata itu benar.
Beberapa orang peneliti dari University of Vienna, Austria yakni Jakob Pietschnig, Martin Voracek dan Anton K. Formann dalam riset mereka yang diberi judul “Mozart Effect” mengemukakan kesalahan besar dari hasil penelitian musik yang melegenda ini.
Pietschnig dan kawan-kawannya mengumpulkan semua pendapat dan temuan para ahli terkait dampak musik Mozart terhadap tingkat intelegensi seseorang kemudian mereka membuat riset terhadap 3000 partisipator. Hasilnya ternyata sangat mengejutkan! Berdasarkan penelitian terhadap ribuan partisipator itu, Pietschnig dan rekan-rekannya menyimpulkan bahwa tidak ada stimulus atau sesuatu yang mendorong peningkatan kemampuan spasial seseorang setelah mendengarkan musik Mozart.
Senada dengan Jacob Pietschnig dan kawan-kawannya, sebuah tim peneliti Jerman yang terdiri atas ilmuwan, psikolog, filsuf, pendidik, dan ahli musik mengumpulkan berbagai literatur dan fakta mengenai efek mozart ini. Mereka mengemukakan bahwa sangat tidak mungkin mozart dapat membuat seorang anak menjadi jenius.
Penelitian terbaru ini membantah habis-habisan hasil riset psikolog Frances Rauscher dan rekan-rekannya di University of California pada tahun 1993 yang mengemukakan bahwa musik Mozart ternyata dapat meningkatkan kemampuan mengerjakan soal-soal mengenai spasial.
Wow…padahal, selama ini kita sudah terlanjur percaya pada legenda musik klasik ini, ya?
Back to Al-Qur’an
Berbeda dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah mukjizat yang telah Allah jamin kemurniannya hingga hari kiamat kelak. Ada banyak kemuliaan dan kebaikan yang ada dalam Al-Qur’an. Salah satunya adalah Al-Qur’an dapat merangsang perkembangan otak anak dan meningkatkan intelegensinya.
Setiap suara atau sumber bunyi memiliki frekuensi dan panjang gelombang tertentu. Nah, ternyata, bacaan Al-Qur’an yang dibaca dengan tartil yang bagus dan sesuai dengan tajwid memiliki frekuensi dan panjang gelombang yang mampu mempengaruhi otak secara positif dan mengembalikan keseimbangan dalam tubuh.
Bacaan Al-Qur’an memiliki efek yang sangat baik untuk tubuh, seperti; memberikan efek menenangkan, meningkatkan kreativitas, meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan kemampuan konsentrasi, menyembuhkan berbagai penyakit, menciptakan suasana damai dan meredakan ketegangan saraf otak, meredakan kegelisahan, mengatasi rasa takut, memperkuat kepribadian, meningkatkan kemampuan berbahasa, dsb.
Pada asalnya, milyaran sel saraf dalam otak manusia bergetar secara konstan. Sel ini berisi program yang rumit dimana milyar sel-sel di sekitar berinteraksi dalam sebuah koordinasi yang luar biasa yang menunjukkan kebesaran Allah.
Sebelum bayi lahir, sel-sel otaknya mulai bergetar berirama secara seimbang. Tapi setelah kelahirannya, tindakan masing-masing akan mempengaruhi sel-sel otak dan cara mereka bergetar. Jadi jika beberapa sel otak tidak siap untuk mentoleransi frekuensi tinggi, ini dapat menyebabkan gangguan dalam sistem getar otak yang pada gilirannya menyebabkan banyak penyakit fisik dan psikologis.
Seorang peneliti bernama Enrick William Duve menemukan bahwa otak bereaksi terhadap gelombang suara tertentu. Dan gelombang tersebut dapat berpengaruh secara positif dan negatif. Ketika beredar informasi bahwa musik klasik berpengaruh terhadap perkembangan otak manusia, banyak kalangan menggunakan musik klasik sebagai obat terapi.
Tapi, Al-Qur’an tetaplah obat yang terbaik. Terapi dengan Al-Qur’an terbukti mampu meningkatkan kecerdasan seorang anak, menyembuhkan berbagai penyakit, dsb. Ini dikarenakan frekuensi gelombang bacaan Al-Qur’an memiliki kemampuan untuk memprogram ulang sel-sel otak, meningkatkan kemampuan, serta menyeimbangkannya.
Satu lagi, Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab, yakni bahasa yang memiliki nilai sastra yang tinggi, dan bahasa nomor satu yang paling sulit untuk dipelajari. Kita tahu, bahwa tidak ada satupun dari kita yang mampu menandingi keindahan bahasa Al-Qur’an. Namun, tahukah Anda, bahwa ternyata jika kita mampu berbahasa Arab dapat memudahkan kita untuk menguasai bahasa asing lainnya?
Anak-anak yang terbiasa membaca Al-Qur’an disertai dengan memahami maknanya, ternyata memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik daripada anak-anak lain. Bahkan meski bahasa tersebut masih asing, ia tidak membutuhkan waktu yang lama untuk kemudian menguasainya, insya Allah.
Adik saya yang kedua, Alhamdulillah, adalah seorang hafidz (penghafal Al-Qur’an). Ia berhasil menyempurnakan hafalan 30 juz hanya dalam waktu 1,5 tahun saja. Dulu, sebelum ia menghafal Al-Qur’an, kemampuannya biasa-biasa saja. Pintar, tapi bukan juara kelas. Tapi, setelah ia mulai menghafalkan Al-Qur’an, kecepatan belajar, kecepatan menghafal, serta kemampuannya menganalisis segala sesuatunya berubah drastis. Sangat pesat, subhanallah. Ia mengalahkan teman-teman yang dulunya berada di atasnya. Bahkan, saat ia harus mengikuti lomba tafsir Al-Qur’an dengan bahasa Inggris tingkat propinsi DIY pun, ia berhasil menyabet juara kedua. Padahal, sebelumnya, kemampuan bahasa Inggrisnya pas-pasan. Tapi, kemampuannya menyerap berbagai informasi memudahkannya dalam berbagai hal.
Janin usia 7 bulan sudah dapat merespon suara-suara di sekitar ibunya. Nah, untuk itulah, penting bagi ibu hamil untuk banyak-banyak memperdengarkan Al-Qur’an kepada janinnya. Kita tidak mengharapkan mereka mengerti dan memahami apa yang kita baca. Namun, membiasakannya mendengarkan Al-Qur’an sejak dalam kandungan, membantunya untuk tumbuh dengan intelegensi tinggi, kemampuan berbahasa yang baik, dan kepribadian yang baik pula.
Dari berbagai sumber.
1 | Anonymous
June 24, 2011 at 4:25 pm
ALQUR’AN VS MOZART: MANA YANG MENCERDASKAN ANAK? Note ini saya ambil dari Rumah Bunda. Baru-baru ini saya dikagetkan oleh sebuah
fakta baru penelitian bahwa ternyata musik klasik tidak memiliki pengaruh
apapun terhadap kemampuan kognitif
seorang anak. Itu artinya, mendengarkan musik klasik
tidak mencerdaskan anak sebagaimana
yang selama ini kita tahu. Selama lebih
dari 15 tahun, kita terkecoh oleh publisitas
yang banyak membesar-besarkan tentang
musik klasik yang dapat memacu kecerdasan seorang anak. Dulu, sebelum
saya mengenal banyak keajaiban Al-
Qur’an, saya cenderung memegang pendapat bahwa musik klasik dapat
merangsang perkembangan otak janin dan
mencerdaskan anak. Tapi, beberapa tahun
kemudian, saya mulai berpikir, jika mozart
yang ciptaan manusia saja bisa
mencerdaskan anak, maka tentu Al-Qur’an yang merupakan mukjizat yang telah Allah
berikan kepada kita ini lebih dapat
mencerdaskan anak. Dan ternyata itu benar. Beberapa orang peneliti dari University of
Vienna, Austria yakni Jakob Pietschnig, Martin Voracek dan Anton K. Formann dalam riset mereka yang diberi judul “Mozart Effect” mengemukakan kesalahan besar dari hasil penelitian musik
yang melegenda ini. Pietschnig dan kawan-kawannya
mengumpulkan semua pendapat dan
temuan para ahli terkait dampak musik
Mozart terhadap tingkat intelegensi
seseorang kemudian mereka membuat
riset terhadap 3000 partisipator. Hasilnya ternyata sangat mengejutkan! Berdasarkan
penelitian terhadap ribuan partisipator itu,
Pietschnig dan rekan-rekannya
menyimpulkan bahwa tidak ada stimulus
atau sesuatu yang mendorong peningkatan
kemampuan spasial seseorang setelah mendengarkan musik Mozart. Senada dengan Jacob Pietschnig dan
kawan-kawannya, sebuah tim peneliti
Jerman yang terdiri atas ilmuwan,
psikolog, filsuf, pendidik, dan ahli musik
mengumpulkan berbagai literatur dan fakta
mengenai efek mozart ini. Mereka mengemukakan bahwa sangat tidak
mungkin mozart dapat membuat seorang
anak menjadi jenius. Penelitian terbaru ini membantah habis-
habisan hasil riset psikolog Frances Rauscher dan rekan-rekannya di University of California pada tahun 1993
yang mengemukakan bahwa musik Mozart
ternyata dapat meningkatkan kemampuan
mengerjakan soal-soal mengenai spasial. Wow…padahal, selama ini kita sudah terlanjur percaya pada legenda musik
klasik ini, ya? Back to Al-Qur’an Berbeda dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah mukjizat yang telah Allah jamin
kemurniannya hingga hari kiamat kelak.
Ada banyak kemuliaan dan kebaikan yang
ada dalam Al-Qur’an. Salah satunya adalah Al-Qur’an dapat merangsang perkembangan otak anak dan
meningkatkan intelegensinya. Setiap suara atau sumber bunyi memiliki
frekuensi dan panjang gelombang tertentu.
Nah, ternyata, bacaan Al-Qur’an yang dibaca dengan tartil yang bagus dan sesuai
dengan tajwid memiliki frekuensi dan
panjang gelombang yang mampu
mempengaruhi otak secara positif dan
mengembalikan keseimbangan dalam
tubuh. Bacaan Al-Qur’an memiliki efek yang sangat baik untuk tubuh, seperti;
memberikan efek menenangkan,
meningkatkan kreativitas, meningkatkan
kekebalan tubuh, meningkatkan
kemampuan konsentrasi, menyembuhkan
berbagai penyakit, menciptakan suasana damai dan meredakan ketegangan saraf
otak, meredakan kegelisahan, mengatasi
rasa takut, memperkuat kepribadian,
meningkatkan kemampuan berbahasa, dsb. Pada asalnya, milyaran sel saraf dalam
otak manusia bergetar secara konstan. Sel
ini berisi program yang rumit dimana
milyar sel-sel di sekitar berinteraksi dalam
sebuah koordinasi yang luar biasa yang
menunjukkan kebesaran Allah. Sebelum bayi lahir, sel-sel otaknya mulai
bergetar berirama secara seimbang. Tapi
setelah kelahirannya, tindakan masing-
masing akan mempengaruhi sel-sel otak
dan cara mereka bergetar. Jadi jika
beberapa sel otak tidak siap untuk mentoleransi frekuensi tinggi, ini dapat
menyebabkan gangguan dalam sistem
getar otak yang pada gilirannya
menyebabkan banyak penyakit fisik dan
psikologis. Seorang peneliti bernama Enrick William
Duve menemukan bahwa otak bereaksi
terhadap gelombang suara tertentu. Dan
gelombang tersebut dapat berpengaruh
secara positif dan negatif. Ketika beredar
informasi bahwa musik klasik berpengaruh terhadap perkembangan otak manusia,
banyak kalangan menggunakan musik
klasik sebagai obat terapi. Tapi, Al-Qur’an tetaplah obat yang terbaik. Terapi dengan Al-Qur’an terbukti mampu meningkatkan kecerdasan seorang anak,
menyembuhkan berbagai penyakit, dsb. Ini
dikarenakan frekuensi gelombang bacaan
Al-Qur’an memiliki kemampuan untuk memprogram ulang sel-sel otak,
meningkatkan kemampuan, serta
menyeimbangkannya. Satu lagi, Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab, yakni bahasa yang memiliki
nilai sastra yang tinggi, dan bahasa nomor
satu yang paling sulit untuk dipelajari. Kita
tahu, bahwa tidak ada satupun dari kita
yang mampu menandingi keindahan
bahasa Al-Qur’an. Namun, tahukah Anda, bahwa ternyata jika kita mampu berbahasa
Arab dapat memudahkan kita untuk
menguasai bahasa asing lainnya? Anak-anak yang terbiasa membaca Al-
Qur’an disertai dengan memahami maknanya, ternyata memiliki kemampuan
berbahasa yang lebih baik daripada anak-
anak lain. Bahkan meski bahasa tersebut
masih asing, ia tidak membutuhkan waktu
yang lama untuk kemudian menguasainya,
insya Allah. Adik saya yang kedua, Alhamdulillah,
adalah seorang hafidz (penghafal Al-
Qur’an). Ia berhasil menyempurnakan hafalan 30 juz hanya dalam waktu 1,5
tahun saja. Dulu, sebelum ia menghafal Al-
Qur’an, kemampuannya biasa-biasa saja. Pintar, tapi bukan juara kelas. Tapi,
setelah ia mulai menghafalkan Al-Qur’an, kecepatan belajar, kecepatan menghafal,
serta kemampuannya menganalisis segala
sesuatunya berubah drastis. Sangat pesat,
subhanallah. Ia mengalahkan teman-teman
yang dulunya berada di atasnya. Bahkan,
saat ia harus mengikuti lomba tafsir Al- Qur’an dengan bahasa Inggris tingkat propinsi DIY pun, ia berhasil menyabet
juara kedua. Padahal, sebelumnya,
kemampuan bahasa Inggrisnya pas-pasan.
Tapi, kemampuannya menyerap berbagai
informasi memudahkannya dalam berbagai
hal. Janin usia 7 bulan sudah dapat merespon
suara-suara di sekitar ibunya. Nah, untuk
itulah, penting bagi ibu hamil untuk
banyak-banyak memperdengarkan Al-
Qur’an kepada janinnya. Kita tidak mengharapkan mereka mengerti dan
memahami apa yang kita baca. Namun,
membiasakannya mendengarkan Al-Qur’an sejak dalam kandungan, membantunya
untuk tumbuh dengan intelegensi tinggi,
kemampuan berbahasa yang baik, dan
kepribadian yang baik pula. Dari berbagai sumber. Sumber : http:// http://www.fadhilahislam.co.tv/2010/08/alquran-
vs-mozart-mana-yang.html