Feeds:
Posts
Comments

Memberdayakan Rumah

Apa yang terpikir jika mendengar kata rumah? Tempat istirahat, ketentraman, surga *baiti jannati, tea*?
Memang setelah jenuh dan lelah seharian bekerja di luar rumah, kita membutuhkan suasana yang aman, tentram dan nyaman untuk beristirahat.
Akan tetapi, rumah sebenarnya tempat yang potensial, lho. Terutama bagi keluarga yang ingin memiliki penghasilan tambahan tetapi minim modal. Apalagi jika rumah yang kita tempati sekarang adalah rumah kontrakan yang harus dibayar sewa perbulan atau pertahunnya.
Sayang jika ada lahan yang menganggur, kamar kosong, dan garasi yang tidak ada mobil untuk diparkir. Kita bisa mengoptimalkan ruangan tersebut.

sumber: http://www.dani-craft.com/wp-content/plugins/wp-shopping-cart/product_images/P1%20RUMAH%20T%20PENSIL.jpg

sumber: http://www.dani-craft.com/wp-content/plugins/wp-shopping-cart/product_images/P1%20RUMAH%20T%20PENSIL.jpg


Keuntungan memberdayakan rumah antara lain:
1. Tidak perlu membayar sewa lagi diluar sewa rumah yang dihuni, malah bisa menutup biaya sewa rumah hunian kita
2. Bekerja di rumah atau bila ada asisten, bisa mudah mengontrolnya.
3. Bagi yang menggunakan jasa PRT, kita bisa menggaji bahkan menaikkan gajinya karena dia juga membantu menjaga toko.

Tentu saja usaha yang digeluti di rumah harus menyesuaikan dengan konsumen di hunian kita. Misalnya jual pulsa, warung sembako, gas, air isi ulang, wartel. Tapi kalau buka kuliner misalnya, mungkin diperlukan rumah yang lokasinya strategis.
Beruntung ALBA yang memiliki peluang usaha jasa pendidikan ditempatnya. Komplek yang dihuni kalangan menengah ke atas tetapi jauh dari pusat perkotaan membuat ALBA menjadi pilihan para orangtua untuk mendidik anak-anaknya. Usaha bimbel di komplek Sankyu Kramwatwatu memiliki peluang yang baik. Lahan disamping rumah yang luas, kami buat saung dengan modal 1 juta. Ruang depan yang biasanya digunakan jadi ruang tamu, kami sulap menjadi ruang kelas. Bagaimana jika ada tamu? Mereka kami terima diruang kelas kami dan tidak ada masalah sama sekali. Bahkan jika teman-teman ayah datang, mereka bisa berbincang-bincang di dalam saung.
Terus, bagaimana jika ada tamu sementara kelas dipakai untuk mengajar? Otomatis tamu tidak akan berlama-lama bertamu karena kami pun sedang sibuk mengajar. *Kayak sadis ya?

sumber :http://enengnurul.files.wordpress.com/2008/12/learningcenter.jpg

sumber :http://enengnurul.files.wordpress.com/2008/12/learningcenter.jpg


Dulu dengan satu ruangan, hanya bisa berjalan minimal 2 kelas tiap harinya. Kini dengan adanya dua ruangan kelas, bisa berjalan 4 kelas tiap harinya. Kami pun berencana untuk menyulap kamar depan dan ruang belakang untuk menjadi ruang kelas. Karena itu kami mulai merekrut asisten yang selanjutnya bisa mengajar di kelas yang telah disediakan.
Biaya untuk merenovasi tidak begitu besar. Selain itu, biaya sewa kelas yang sekaligus menjadi hunian sudah tertomboki dari pemasukan hasil mengajar.
Memang kekurangannya, rumah tidak menjadi privasi pemilik sepanjang waktu. Tapi itu bergantung kebijakan pemilik rumah dan semua bisa disiasati.
Kami mendapat waktu santai bersama keluarga mulai malam, pagi, siang hingga sore hari. Waktu yang lama bukan? karena sore hingga malam sudah harus mengajar.
Mungkin kelak, waktu privasi pagi dan siang akan berkurang untuk kami optimalkan membuat usaha sampingan lain. Namun, masih ada waktu malam, bukan? Kami rasa itu cukup sebagai waktu istirahat kami.

ALBA butuh asisten mengajar, part time, muslimah, freshgraduated, pintar, full energy, senang mengajar anak2, domisili sekitar kramatwatu, Serang. Salary dont worry. Hubungi 0815 1918 0345. Jazakumullah khair

Testimoni

Bila : “Om, kata Mamah itungannya jangan banyak-banyak dulu…”
Om Haqi : (Heran) “Emang kenapa?”
Bila dan Nia saling berpandangan dan melempar senyum.
Bila : “Susah ngeceknya om…!”
Om Haqi : “Ngeceknya? Emang ngecek pake apa?”
Nia dan Bila tertawa lepas.
Bila : “Pake kalkulator di HP gak bisa, jawabannya, ‘hasil terlalu besar’.(cekikikan)”
Nia : “Kalo Nia jawabannya, ‘Hasil tidak terjangkau..!’.(masih cekikikan)”
Om Haqi : “Oo… mamanya mau ngecek jawabannya ya?” (jawabannya memang ratusan juta, karena sekarang mereka masuk pelajaran perkalian puluhan ribuan kali ribuan)
Bila dan Nia: “Iyaaa…!!”
Nia : “Akhirnya mamah ngotret pake tulisan biasa..”
Om Haqi : “Oh, terus hasilnya gimana?”
Bila : “Gak tau, mamahnya gak bisa ngitung hasilnya. Kebanyakan…!”

Pernikahan dua insan yang dipertemukan Allah Swt. pada tahun 2007 membuat mereka menetap di Serang,Banten. Sang suami yang bernama Imam Baihaqi, selain bekerja sebagai marketing di J&J, sebuah perusahaan konveksi dan advertising, juga mengajar sempoa di Yayasan yang dikelola kakaknya.
Sedangkan Alya, nama panggilan dari istri Imam, direkrut pula untuk mengajar B. Inggris di tempat yang sama yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah kontrakannya.
Kemudian, para tetangga dan teman-teman pengajiannya meminta bantuan ibu satu anak itu untuk mengajar anak-anaknya. Dengan bekal akta IV dan pengalaman mengajar di Pribadi Advanced School Bandung (sekarang Pribadi Bilingual School), ia pun mulai mengajar Matematika, Sains dan B. Inggris.
Tahun berikutnya, antusiasme warga komplek BPP Sankyu, tempat dimana mereka tinggal, terhadap pendidikan putra putrinya semakin meningkat. Apalagi materi kurikulum pembelajaran sekarang lebih rumit dari pada kurikululm sekolah jaman orang tuanya dahulu. Melalui cerita dari mulut ke mulut, akhirnya banyak orang tua yang mendaftarkan anak-anaknya di tempat mereka.
Mereka pun mulai serius mengelola bimbingan belajar tersebut untuk memberi pelayanan terbaik kepada anak-anak didiknya. Tidak tanggung-tanggung, Om Haqi, panggilan sang suami, rela melepas pekerjaan tetapnya sebagai marketing agar bisa berkonsentrasi mengelola dan mengajar di ALBA, bimbelnya.
Kini Ayah dan Bunda dari Arsyad Ahmad Fathy Al-Baihaqi mulai intens mengajar sempoa jari khusus kelas 1 s.d. 3 SD; pelajaran umum: Matematika dan Sains untuk kelas 4 s.d. 6 SD, dan 1 SMP; English Course SD dan insya Allah akan menambah kelas dan gradenya.
Meskipun jam mengajar dimulai dari pukul 2 siang hingga 8.30 malam, dari mulai senin sampai jumat, dan hari sabtu-minggu nya full digunakan untuk mengajar, mereka merasa sangat bersyukur karena waktu kebersamaan dengan putra mereka ada di setiap harinya. Alhamdulillahirobbil’alamiin..
(Admin)

Belajar di Saung Bambu

Salah satu daya pikat belajar di ALBA adalah saungnya yang teduh plus angin sepoi-sepoi. Tak jarang pula, angin ‘gedebug’ numpang lewat, “WUssszzzz…wassszzz…. wuusssszzzz” menerbangkan lembaran kertas yang sedang dipelajari anak-anak. Tapi dengan sabar dan tawa riang mereka kembali mengumpulkan tebaran kertas tersebut meskipun tidak berapa lama kemudian, “WUUSssszzz…!!!!!!” si angin ‘gedebug’ lagi-lagi nguji kesabaran anak-anak… dan gurunya juga…. hehehe…

Saung Alba

Saung Alba


Saung ini memuat 10-14 anak, 1 guru dan 1 asisten guru. Lebih dari itu, mah, mangga weh calik di tangga. Anak-anak belajar di atas meja tanpa kursi alias ngampar. Papan tulis di paku permanen dan jam dinding di gantung diseberangnya supaya guru tau waktu dan nggak kebablasan ngajar, apalagi sampe lupa ngasih waktu istirahat ke anak-anak.

Guru dan Siswa

Guru dan Siswa

Dengan luas ruangan yang tidak begitu lebar, suasana keakraban antara anak-anak dengan guru lebih kental terasa. Mereka tidak canggung untuk bertanya, karena gurunya pun duduk ngampar. Ya, seperti pepatah, duduk sama rendah, tapi pas berdiri, mah, ya, lebih jangkung gurunya, jelas.
Alba juga menyediakan lahan parkir yang luas untuk parkir kendaraan roda dua anak-anak. Plus tempat sampah di sudut lahan untuk menanamkan disiplin akan kebersihan. Kami tidak segan-segan memberi sanksi bagi anak-anak yang kedapatan tidak membuang sampah pada tempatnya. Kalau nggak ketahuan, atau tidak ada laporan dari teman-temannya, biarlah Allah Swt. yang memberi sanksi…. huehuehue, sadisss….Kenyataannya dengan ancaman seperti itu, mereka tidak akan sembunyi-sembunyi untuk buang sampah sembarangan. Kecuali pas lupa…
Lahan parkir sepeda

Lahan parkir sepeda


Akhirul kata, dengan sarana prasarana yang kami sediakan, didukung dengan guru yang cinta dan peduli pada dunia anak serta asisten guru fresh graduated dan baru masuk kuliah di universitas terkemuka di Serang yang tentunya masih berjiwa muda, kami berharap tawa riang anak-anak ketika belajar tetap menggema di saung sangat sederhana ini.
Kelas Sempoa Jari 1A

Kelas Sempoa Jari 1A


Belajar Sempoa Jari 1 A

Belajar Sempoa Jari 1 A


Asisten

Asisten


Suasana belajar sempoa jari

Suasana belajar sempoa jari


Si kembar ceria dan pintar

Si kembar ceria dan pintar

Taksi tradisional

Taksi tradisional

Keliling jakarta pake taksi roda tiga alias BAJAJ. Full AC tentunya, alias Angin Cemilir, xixixixixi. Tapi mantep banget, deh. Dengan mengerahkan seluruh tenaga, set set set, selap sana selip seni, ngelewatin jalan tikus. Khawatirnya sih pas tanjakan. Si Bajaj udah ngegerung maksimal, “Grung..! grung..! Gruunggg..!!!” tapi jalannya… ampyuunn… lebih cepetan larinya Fatih. Haha, bukannya apa2, takut morosot ke belakang! Itu aja!

Dipikir2 enak juga naik Bajaj. Harga lebih murah dari taksi, tapi servisnya gak kalah dari taksi. Kami tetep terlindungi dari panas matahari yang nyengat n hujan tentunya. Lebih cepet, eksklusif (buat 2-3 orang only), kursinya jg gak kalah empuk ma taksi hehehe.

Si Bajaj berhenti di deket toko Gunung Agung Kwitang. Lho, kok sepi, ya? Wey, ternyata pedagang2 bukunya dah pada pindah! Gak semua, sih, masih ada beberapa di situ.

Langsung cabut lagi ke proyek Pasar Senen. Dengan Bajaj favorit tentunya.

Sampe di bursa buku Pasar Senen, hmm, situasinya tidak seperti yang dibayangkan. Kurang heboh. Banyak kios yang kosong, n sepi pembeli.

Setelah melakukan pencarian dan tanya kesana kemari, alhamdulillah, akhirnya ketemu juga kios yang komplit dengan ensiklopedi sains n ilmu pengetahuan umum di lantai atas. Tapi uang kurang euy! Mana ATM Bersama nya lagi ngadat. “Atm Mandiri, Pak? itu di bawah, Atrium senen!” saran penjual buku disitu. Ok, sepertinya deket. Ayah langsung cabut deh ke Atrium, sementara saya n Fatih sibuk nyeleksi buku2 bagus.

Lima belas menit berlalu, kok, Ayah belum dateng yah? Bukannya ATM nya di bawah? deket kan? Baru terlintas begitu, telpon langsung memanggil. Dari Ayah ternyata, katanya, antriiiii! Jadi masih lama. Ya, ya, tenang aja, Say, gak buru2 kok. Lagian milihin bukunya belum beres.

Lima belas menit kemudian, Ayah dateng terengah-engah. Bawa all kinds of cake dari Bread Talk. Waaaa, udah lama gak makan kue2 BT, di Serang gak ada sih. Nyeleksi buku berlanjut sambil nikmati cake BT. Pedagang2 disitu cuman nelen ludah aja ngliat kami makan kue. Abisnya, ditawarin pada gak mau. Sedangkan perut dah berontak pengen diisi. Laper beraattt!!! Maaf ya ibu2 dan bapak2.

Pas diitung2 ternyata uang sejuta kurang buat nebus buku2 pilihan. Sayang kalo ada buku yang harus dikurangin. Akhirnya kita berdua ngerogoh kantong, tas, n saku masing2 ngumpulin recehan. Terkumpullah seratus ribu sekian. Ditambah duit dari ATM totalnya jadi 1,1 juta. Padahal harga bukunya 1,2 sekian juta. Ayah sepertinya tau kalo saya akan memintanya balik ke ATM. Langsung dengan tegas ia menolak. “Iya, keliatannya deket, tapi coba jalan. Jauhhh tauu!”

Lobi punya lobi, akhirnya si ibu dan bapak kios merelakan buku2nya kami bawa dengan 1,1 juta. Alhamdulillah, makasih ya Bu, Pak.

Beuraattttt….Ayah ngebawa sedus buku di bahunya.
Di parkiran atas, keliatan ngejeblag gedung Plaza Atrium dengan logo J.Co n KFC nya yang gede. Wah, ini mah tinggal lompat juga nyampe! Tapi Ayah gak setuju. Saya disuruh ngelongok ke bawah. Huiiihhh…. ala maakkk…. jalan rayanya luebaaarrrrr.
Sambil mesem2 saya ngakuin kalo Ayah udah berjuang susah payah hingga bersimbah kesang buat ngambil duit di ATM.

Eh, tapi uang di kantong tinggal 15 rebu! Di koreh2, gak ada recehan sama sekali. ATM yang kami tau cuman satu itu di Atrium. Waduh, kasian Ayah kali musti bawa dus seabreg2 ke sana. Jangankan bawa dus, jalan kaki tanpa bawa apapun aja kapok. Capek pisan!

Pake Taksi aja, Yah, cukuplah uangnya kalo cuman ke Atrium buat ambil duit di ATM. Dengan yakin Ayah bilang, mendingan jalan kaki cepet, kalo naik Taksi bisa 1 jam baru nyampe. Muteeerrrrr, tangannya ayah nunjukin arah puteran ke gedung gede tersebut yang memang lumayan jauh, mana macet pula.
Kami berdua terduduk lemas di salah satu anak tangga pasar senayan. Sementara Fatih, sibuk ngedadahin tiap mobil yang lewat.

Tiba2 mata kami tertuju pada sebuah BAJAJ. Kami pun berpandangan satu sama lain seolah2 sama2 punya ide cemerlang. Kenapa gak tanya aja ke tukang bajaj, ATM terdekat selain di Atrium. Lagipula kami harus balik ke Kwitang tepatnya ke T.B. Walisongo buat beli buku 100 Tokoh Zuhud. Di Senen lakeu.
Seperti HP baru di cas, kami bertiga memburu tukang Bajaj yang lagi males2an di dalam kendaraan mungilnya.

“Mas! Tau ATM Mandiri, gak?” todong ayah ke tukang bajaj yang masih setengah nyawa.
Rada gelagapan n kayak orang mabok, si mas nya ngomong sebuah tempat, yang kami berdua jg blank bout that place.

“Sepuluh ribu!” jawab si Mas pas kami minta dianterin ke ATM n langsung ke Kwitang.

Deal! Tanpa tawar menawar kami langsung menyerbu masuk ke dalam Bajaj yang ampir oleng saking gaduhnya.

“GGRRUUUNNGGGG…!!! Dod dod dod dod…Grung! Grung!” Seeeettthhh…. si Bajaj melaju kencang.

Macet

Macet


Sengebut2nya Bajaj, tetep aja masih kesusul sama motor2 berkecepatan sedang. Apalagi pas belok ditikungan, pake ngepot segala! Ya ampun kayak bawa orang yang mo lahiran aja. Tapi ngepotna enakeun sih, gak bikin kami terpelanting keluar.

Si Bajaj berhenti di bawah gedung Money Changer. Hueueue, gak salah nih, jangan2 si mas gak tahu atm Mandiri lagi. Tapi setelah saya menoleh ke kiri, disitu ada ruangan mungil bertuliskan ATM MANDIRI, huaaaaa, jelas kami melonjak kegirangan.

Fatih dalam Bajaj

Fatih dalam Bajaj


Setelah urusan tarik menarik uang selesai, kami dan si Bajaj lincah langsung cao lagi ke Kwitang. Si Bajaj menyusup melalui jalan2 tikus dan berhasil melaluinya dengan mulus. Ya, iyalah, segala bentuk motor dari arah berlawanan langsung menyingkir demi ngasih jalan buat si Bajaj yang mengaum aum. Meskipun di dalam gang, tetep we ngebut nomor hiji. Fatih neh yang paling seneng ajrut-ajrutan di dalam Bajaj.

Ciiiitttt…!!! Tak butuh waktu lama buat nyampe di Kwitang. Sepuluh ribu mah oke lah buat servis yang mantaf kayak gini. Supirnya bisa diandalkan pula.

Wah, inilah pengalaman pertama ku naik Bajaj. Suer pakewer kewer belum pernah sebelumnya merasakan becak bermotor ini.
Sekali merasakan, jadi favorit deh! TOP BGT!

Cuman sayang aja, bisingnya itu, lho. Apalagi pas lewat gang2, pasti para penghuni rumah n orang2 sekitarnya pada keganggu sama suaranya. Ya, abis ngotot banget ,sih, suara knalpotnya. Belum lagi polusinya, hiks, nambah kotor udara ibu kote.

I wish somebody would modify that. Knalpot nya ganti , kek, ma yang bagusan, biar gak rebek suaranya, ‘n ngganti bahan bakar bajaj sama gas yang lebih ramah lingkungan. Kalo gitu kan, Bajaj bisa dapet award sebagai alat tranportasi favorit ibu2, mahasiswa dan pelajar. Hahaha… Aamiin.
See ya again in Jakarta! Tapi mudah2an nanti mah punya mobil pribadi berbahan bakar gas or biosolar. Aamiin!

(Cerita waktu ke Jakarta, 28 Mei 2009)

OVERLOAAADD!!! Huaaa, setelah sebulan non stop nulis plus begadang, otak asa pinuh. Nanya ke penerbit kapan deadlinenya, gak pernah dijawab. Eh, pernah dijawab satu kali. Katanya, ‘tenang aja kalo masalah waktu, bisa diperpanjang, kok!’. Haduuhh, tetep aja tidak menjawab pertanyaan. Kalo nyante, kasian ditunggu. Kalo gurunggusuh takut gak optimal hasilnya. I really need a little time for breath even for a while! And without preassure of course! hiks.

Pernah nyoba refreshing ke mall. Yah, kalo di Cilegon, mah, lagi-lagi Mayofield, kekekeke. Cuman, boro-boro refreshing, yang ada malah kepikiran terus. Sayang waktu kebuang buat jalan-jalan, padahal kalo nulis bisa jadi beberapa lembar, tuch.

Sejak itu, kalo ditawarin refreshing cuman ke mall, no no no. No Thank you. I prefer do my writing. But this time was really different. Suamiku tercinta nawarin refreshing ke Jakarta! waw waw waw, padahal besoknya musti ngajar kelas 5 SD. “Ganti jadwal ajah!” My husband gave me suggestion. Pengennya sih bisa. Tapi tau, kan, anak2 kelas 5 paling syusyah kalo diajak kompromi. “Biar saya yang urus!” huaa, ayah yang bakal ngelobi mereka biar ikhlas ganti jadwal. Cie cie… emang segitu pentingnya ya daku dimatamu, darling? Jadi terharuw…

And, today, kami bertiga cabut ke Jakarta. Tanpa kendala berarti, anak2 kelas 5 malah seneng jadwalnya dipindah ke malam minggu. Berarti Allah Swt. meridhoi refreshing kami. Ayah, saya, my lovely son, Fatih, naik bus ke kebon jeruk. Ngapain ke Jakarta? Shopping doonnkkk!!!
Shopping and hunting buku2 pengetahuan buat anak2. Itung2 ngisi perpustakaan pribadi. Huaaa…. seneng seneng seneng!!!!

Makasih, Ayah, otak dah encer nih. Siap berjuang lagiii!!!

New Comer

Lagi coba-coba bikin blog, nih. Hari ini : Jumat, 1 Mei 2008 pukul 08.40. Sarapan pagi nasi goreng plus ngutak ngatik wordpress. Fatih tidur di rumah budenya saking kecapekan main. Udah dulu deh, mau ngelanjutin lagi proses kreatifnya. See ya..!